saya mau cerita nih, kemarin sayab baru aja buat makalah sebagai tugas matakuliah 'Ulumul Qur'an. beeeh dosennya mantab. ya tergantung kitanya aaja. intinya saya mau share nih makalahnya mungkin bisa untuk dijadikan contoh aja.... INGAT NGGAK BOLEH KOPAS>>>>
AYAT-AYAT MUHKAM DAN MUTASYABIH
Makalah ini diajukan untuk memenuhi tugas dari mata kuliah
ULUMUL QUR’AN
Dosen Pengampu : Prof. Dr. H. Maragustam, M.A.
Disusun oleh :
Muhammad
Faaza (16410053)
Amanah
Ismi Hidayah (16410054)
M.
Yordan Aldisar (16410055)
PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUNAN KALIJAGA YOGYAKARTA
TAHUN AKADEMIK 2016/2017
KATA PENGANTAR
Alhamdulillah
segala puji bagi Allah subhanahu wa
ta’ala yang telah memberikan rahmat, hidayah, dan inayah-Nya kepada kami,
sehingga kami dapat menyelesaikan makalah ini tepat pada waktunya untuk
memenuhi tugas mata kuliah Ulumul Qur’an. Sholawat serta salam semoga selalu
tercurah kepada Uswah Khasanah kita, Revolusioner sejati yakni Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, yang
selalu kita nantikan syafaatnya di hari akhir nanti.
Didalam
makalah ini akan dibahas mengenai hakikat, macam, contoh-contoh, pendapat
ulama, dan latar belakang ayat ayat muhkam dan mutasyabih yang ada dalam mata
kuliah Ulumul Qur’an yang termuat dalam kompetensi dasar. Tidak sedikit
hambatan yang kami hadapi. Namun, berkat dukungan dari keluarga, sahabat dan
dosen kami menyadari bahwa masih banyak kekurangan yang ada di dalam makalah
ini. Untuk itu, kritik saran dibutuhkan agar dapat membangun kami sebagai
penyusun dan untuk menyusun makalah
berikutnya.
Akhir
kata kami berharap semoga makalah ini dapat memberikan manfaat bagi kita
sekalian.
Yogyakarta, 24 Februari 2017
Penyusun
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR................................................................................... ii
DAFTAR ISI.................................................................................................. iii
BAB I
PENDAHULUAN.............................................................................. 1
A.
Latar
Belakang..................................................................................... 1
B.
Rumusan
Masalah................................................................................. 2
C.
Tujuan................................................................................................... 2
BAB II
PEMBAHASAN............................................................................... 3
BAB III
KESIMPULAN............................................................................... 21
DAFTAR PUSTAKA.................................................................................... 22
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Al-Qur’an merupakan kitab
suci yang diturunkan dari Allah subhanahu wa ta’aala melalui malaikat
Jibril ‘alaihissalam kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam
secara berangsur-angsur. Al-Qur’an menjadi pedoman bagi umat islam yang berarti
wajib untuk mempelajari dan mengamalkannya.
Dalam Al-Qur’an banyak
sekali pelajaran yang dapat diambil. Keluasan makna yang ada di dalamnya
melahirkan ilmu-ilmu Al-Qur’an itu sendiri. Salah satu bahasan dalam ilmu-ilmu
Qur’an ialah mengenai ayat ayat muhhkam dan mutasyabih yang akan dibahas dalam
makalah ini.
Perlumya bahasan tentang
ayat ayat muhkam dan mutasyabih ini agar kita mengerti dan memahami apa itu
ayat muhkam dan mutasyabih, apa saja macam-macamnya, dan hikmah apa yang ada
dalam ayat muhkam dan mutasyabih tersebut, dan juga untuk menambah pengetahuan
dan wawasan kita dalam mempelajari ilmu-ilmu Al-Qur’an.
B.
Rumusan Masalah
1.
Apa
hakikat dari ayat muhkam dan mutasyabih ?
2.
Apa
saja macam-macam ayat muhkam dan mutayabihat ?
3.
Bagaimana
pendapat ulama mengenai ayat muhkam dan mutasyabih ?
4.
Bagaimana
latarbelakang terjadinya jumlah ayat muhkam dan mutasyabih ?
C.
Tujuan
1.
Mengetahui
hakikat dari ayat muhkam dan mutasyabih.
2.
Mengetahui macam-macam ayat muhkam dan mutayabihat.
3.
Mengetahui
pendapat ulama mengenai ayat muhkam dan mutasyabih.
4.
Mengetahui
latarbelakang terjadinya jumlah ayat muhkam dan mutasyabih.
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Pengertian Muhkam dan Mutasyabih
Menurut bahasa (etimologi), muhkam
artinya suatu ungkapan yang maksud makna lahirnya tidak mungkin diganti atau
diubah (ma ahkam Al-murad bib ‘an al-tabdilwa at-taghyir). Adapun
Mutasyabih adalah ungkapan yang maksud makna lahirnya samar (ma khafiya bi
nafs Al-lafzh).[1]
Menurut istilah (terminologi), terdapat khilafiyah sesama Ahli
Ushul mengenai artinya, yaitu[2]:
Pengertian Ayat-ayat Muhkam :
1.
Yang
diketahui apa yang dimaksud dengannya. Ada kalanya secara zahir atau
nyata dan ada kalanya dengan takwil atau pengalihan artinya.
2.
Apa
yang tidak mungkin ditakwilkan, tapi ia hanya satu arah saja.
3.
Yang
jelas atau terang yang dimaksud dengannya, sehingga ia tidak mungkin
dihapuskan.
4.
Apa
yang berdiri sendirinya dan tidak membutuhkan penjelasan.
5.
Sesuatu
yang kokoh dan bundar sehingga tidak ada seginya.
Pengertian
Ayat-ayat Mutasyabihat :
1.
Apa
yang bertalian dengan pengaruh ilmu Allah, seperti : assaa’ah atau
kehancuran total, keluar binatang-binatang besar, dan dajal.
2.
Apa
yang tidak dapat berdiri sendirinya dan membutuhkan keterangan lainnya.
3.
Apa
yang memungkinkan pengertian yang tidak
satu aja.
4.
Apa
yang tidak terang apa yang dimaksdunya dan membutuhkan nasakh atau penghapusan.
Dari pengertian-pengertian di atas, dapat
disimpulkan bahwa inti dari muhkam adalah ayat-ayat yang maknanya sudah jelas,
tidak samar lagi. Masuk kedalam kategori muhkam adalah nash (kata yang
menunjukkan sesuatu yang dimaksud dengan tegas dan terang, dan memang untuk
makna itu ia disebutkan) dan zhahir (makna lahir). Adapun mutasyabih
adalah ayat-ayat yang maknanya belum jelas. Masuk ke dalam kategori mutasyabih
adalah mujmal (global), mu’awwal (harus ditakwil), musykil,
dan mubham (ambigius).[3]
B. Macam-macam ayat muhkam dan mutasyabih
Ayat-ayat muhkam sudah dijelaskan pada sub
bab di atas, bahwa ayat-ayat tersebut merupakan ayat yang jelas arti dan
maknanya. Maka pada pokok bahasan ini akan di bahas mengenai macam-macam ayat
mutasyabih. Diantara ayat mutasyabih ada berbagai macam, di antaranya [4]:
1.
Mutasyabih
Ditinjau dari Pengetahuan Manusia
Jika
ditinjau dari pengetahuan manusia, terdapat tiga macam yakni :
a. Ayat
yang hanya diketahui oleh Allah subhanahu wa ta’ala dan seluruh manusia
tidak mengetahuinya. Contohnya seperti waktu datangnya hari kiamat dan lainnya.
Dalam macam ini terdapat contoh yakni huruf-huruf pada awal surah tertentu atau
yang sering dikenal dengan huruf fawaatihushshuwar(pembukaan
surat-surat) atau huruf tahajji. Contohnya ada pada surat Al-Baqarah
ayat 1 :
$O!9# ÇÊÈ
Artinya : Alif laam miim.
Menurut contoh diatas jika kita
melihat dan membaca di Al-Qur’an terjemah pasti artinya sama dengan bacaannya,
artinya ayat tersebut mutasyabih dan hanya Allah yang mengetahui makna dan
maksud dari ayat-Nya. Huruf-huruf tahajji
terdapat pada Q.S : Al-Baqarah, Ali Imran, Al-A’raf, Yunus, Hud, Yusuf, Ar-Ra’ad, Ibrahim, Al-Hijr, Maryam,
Thaaha, Asy-Syu’araa, An-Naml, Al-Qashash, Al-‘Ankabuut, Ar-Rum, Lukman,
As-Sajdah, Yasin, Shaa, Al-Mu’min, Fushshilat, Asy-Syuuraa, Az-Zukhruf,
Ad-Dukhaan, Al-Jaatsiyah, Al-Ahqaaf, Qaaf, Al-Qalam.[5]
b. Ayat
yang dapat diketahui dengan jalan pembahasan dan pengkajian yang mendalam.
Contohnya seperti merinci yang global(mujmal), mentaqyidkan yang
mutlak.
c. Ayat
ayat mutasyabihat yang hanya diketahui oleh orang orang yang ilmunya mendalam (rasikh).
2.
Mutasyabih dari
Lafadz dan Maknanya
Jika
ditinjau dari mutasyabih lafadz dan maknanya, al asfani berpendapat bahwa hal
tersebut dibagi menjadi tiga, yaitu [6]:
a. Mutasyabih
dari segi lafadz
Dibagi
menjadi dua macam yaitu :
o
Kesamaran dari
aspek lafadz mufrad (tunggal) yang disebabkan oleh:
·
Lafadz yang gharib(asing),
seperti اَبٌ dalam ayat وفاكهة
وابا yang diartikan rumput-rumputan, seperti bayam, kangkung dan
sebagainya yang disenangi oleh manusia dan hewan.
·
Lafadz yang
terdiri dari lafadz musytarak(mengandung makna ganda), seperti اَلْيَدُ yang diartikan telapak tangan, atau
mencakup satu hasta, kekuasaan.
o
Kesamaran dari
aspek lafadz murakkab ( susunan kata dalam bentuk perkataan) yang disebabkan oleh [7]:
·
Kesamaran lafadz
murakkab terlalu ringkas, seperti pada ayat:
الَّذِينَ يَأْكُلُونَ الرِّبَا لا يَقُومُونَ إِلا
كَمَا يَقُومُ الَّذِي يَتَخَبَّطُهُ الشَّيْطَانُ مِنَ الْمَسِّ ذَلِكَ
بِأَنَّهُمْ قَالُوا إِنَّمَا الْبَيْعُ مِثْلُ الرِّبَا وَأَحَلَّ اللَّهُ الْبَيْعَ
وَحَرَّمَ الرِّبَا فَمَنْ جَاءَهُ مَوْعِظَةٌ مِنْ رَبِّهِ فَانْتَهَى فَلَهُ مَا
سَلَفَ وَأَمْرُهُ إِلَى اللَّهِ وَمَنْ عَادَ فَأُولَئِكَ أَصْحَابُ النَّارِ
هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ
Artinya : “Maka orang-orang yang telah sampai
kepadanya larangan dari Tuhannya, lalu terus berhenti (dari mengamalkan riba)
maka baginya apa yyang telah diambilnya dahulu (sebelum datang larangan) dan
urusannya terserah pada Allah.”(Q.S. Al-Baqarah : 275)
Seandainya ayat tersebut diberi tambahan maka akan
lebih mudah difahami, misalmnya ditambahi:
غَفَرْتُ خَطَايَاهُ وَ بَدَّلْتُ سَيِّئَاتِهِ
حَسَنَاتٍ
“Telah Ku-am,puni segala kesalahannya, dan Ku-gantikan
keburukannya dengan kebaikan.”
·
Kesamaran lafadz
terlalu luas, seperti ayat 11 surah Asy-Syura :
لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ
“Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan-Nya”
Seandainya huruf kaf dibuang maka maknanya lebih
jelas. Karena arti dari کَ dengan مِثْلِهِ artinya
sama, dan dapat diambil kesimpulan bahwa dengan adanya hal semacam itu maknanya
ialah bahwa benar-benar tiada sesuatu apa pun yang serupa dengan Allah ta’aala.
·
Kesamaran lafadz
murakkab yang tidak tertib susunannya, seperti :
() أَنْزَلَ عَلَى عَبْدِهِ الْكِتَابَ وَلَمْ
يَجْعَلْ لَهُ عِوَجَا قَيِّمًا
“Yang menurunkan kepada hamba-Nya al-Kitab
(Al-Qur’an) dan tidak mengadakan kebengkokan di dalamnya; sebagai bimbingan
yang lurus”(Q.S Al-Kahfi: 1-2).
Seandainya susunan kalimat diubah dengan
memindahkan kata qayyiman sebelum kata walam yaj’al maka maknanya akan lebih
jelas.
b. Mutasyabih
dari segi maknanya
Ini
disebabkan karena kesamaran makna ayat yang tidak terjangkau oleh akal pikiran
manusia, seperti sifat sifat Allah, sifat hari kiamat, bagaimana dan kapan
terjadinya.
Allah
ta’ala berfirman :
وَعِنْدَهُ مَفَاتِحُ الْغَيْبِ لا يَعْلَمُهَا إِلا
هُوَ
“Pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang ghaib; tak
ada yang mengetahuinya, kecuali Dia sendiri.”(Q.S Al-An’am : 59)
c. Lafadz
dan makna sekaligus
Kesamaran
ini ada lima aspek yaitu [8]:
o
Mutasyabih dari
segi jumlahnya, seperti lafadz umum dan khusus. Contohnya ialah firman Allah
dalam surah At-Taubah ayat 5:
فَاقْتُلُوا الْمُشْرِكِينَ حَيْثُ
وَجَدْتُمُوهُمْ
“...Maka bunuhlah orang orang musyrikin itu
di mana saja kamu jumpai mereka...”
Yang
samar ddalam ayat ini ialah apakah semua orang musyrik harus di bunuh atau ada
pengecualian dan alasan lain, keterangannya dapat dilihat terdapat dalam surah
Al-Baqarah : 191.
o
Mutasyabih dari
segi caranya, seperti bagaimana caranya menjalankan perintah wajib dan sunnah.
Dan Allah ta’ala berfirman :
اَقِمِ الصًّلاَةَ لِذِكْرِي
“Dirikanlah shalat untuk mengingat-Ku.” (Q.S. Thaaha: 14)
Dalam ayat tersebut terdapat kesamaran, bagaimana cara
shalat agar dapat mengingat Allah subhanahu wata’ala.
o
Mutasyabih dari
segi waktu, seperti sampai kapan batas berlakunya sesuatu.
Friman
Allah :
يَااَيُّهَا الَّذِيْنَ اَمَنُو اتَّقُوْا اللَّهَ حَقَّ
تُقَاتِهِ
“Hai orang-orang yang beriman bertaqwalah kepada Allah
dengan sebenar-benarnya taqwa.” (Q.S.
Ali ‘Imran : 102)
Ayat ini terdapat kesamaran, sampai kapan batas waktu
taqwa sebenar-benarnya itu, kemudian menjadi jelas dengan adanya surah
At-Taghabun : 16.
o
Mutasyabih dari
segi tempat, contohnya firman Allah dalam surah Al-Baqarah : 189, :
وَلَيْسَ الْبِرُّبِأَنْ تَأْتُوا الْبُيُو تَ مِنْ
ظُهُورِهَا
“Bukanlah kebajikan memasuki rumah-rumah dari
belakangnya” (Q.S Al-Baqarah:
189)
Lafadz di atas mempunyai kesamaran karena terlalu
ringkas dan maknanya pula juga terdapat kesamaran. Seandainya diberi tambahan
maka akan mudah untuk dipahami, misal :
إِنْ كُنْتُمْ مُحْرَمِيْنَ بِحَجٍّ أَوْ عُمْرَةٍ
“Jika kalian melakukan ihram untuk haji atau untuk
umrah.”
o
Mutasyabih dari
segi syarat-syarat. Syarat yang ditentukan untuk melakukan suatu kewajiban yang
masih samar, misal syarat sah shalat, puasa, haji, dan lainnya.
C. Contoh-contoh Ayat muhkam dan mutasyabihat.
Adapun contoh ayat muhkam dan mutasyabihat yaitu [9]:
1.
Contoh ayat
Muhkam
يَا
أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَى وَجَعَلْنَاكُمْ
شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ
أَتْقَاكُمْ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ
Artinya:
“Hai manusia sesungguhnya kami menciptakan kamu dari seseorang laki-laki dan
seorang perempuan dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa
dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal”. (Al-Hujarat: 13)
يَا أَيُّهَا النَّاسُ اعْبُدُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ وَالَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُون\
Artinya:
“Hai manusia, sembahlah tuhanmu yang telah menciptakanmu dan orang-orang
sebelum kamu, agar kamu bertakwa”. (Al-Baqarah: 21)
وَأَحَلَّ اللَّهُ الْبَيْعَ وَحَرَّمَ الرِّبَا
Artinya:
“ Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba”.
(Al-Baqarah: 275)
(Al-Baqarah: 275)
يَا
أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنَّمَا الْخَمْرُ وَالْمَيْسِرُ وَالْأَنْصَابُ
وَالْأَزْلَامُ رِجْسٌ مِنْ عَمَلِ الشَّيْطَانِ فَاجْتَنِبُوهُ لَعَلَّكُمْ
تُفْلِحُونَ
Artinya:
“Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya (meminum) khamar, berjudi,
(berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah termasuk
perbuatan syaitan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat
keberuntungan.” (Al-Maidah : 90)
2.
Contoh ayat
Mutasyabih
الرَّحْمَنُ
عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَى
Artinya:
“yaitu Tuhan Yang Maha Pemurah yang bersemayam di atas Arsy”. (Thaha:
5)
كُلُّ شَيْءٍ هَالِكٌ إِلَّا وَجْهَهُ
Artinya:
“tiap-tiap sesuatu pasti binasa kecuali wajah Allah”. (Al-qashash: 88)
وَيَبْقَى
وَجْهُ رَبِّكَ ذُو الْجَلالِ وَالإكْرَامِ
Artinya: “Dan tetap kekal wajah Tuhanmu
yang mempunyai kebesaran dan kemuliaan.”. (Ar-Rahman: 27)
يَدُ
اللَّهِ فَوْقَ أَيْدِيهِمْ
Artinya:
“tangan-tangan Allah diatas tangan mereka”. (Al-Fath: 10)
وَجَاءَ
رَبُّكَ وَالْمَلَكُ صَفًّا صَفًّا
Artinya: “Dan datanglah Tuhanmu,
sedang malaikat berbaris baris.” (Al-Fajr: 22)
وَهُوَ
الْقَاهِرُ فَوْقَ عِبَادِهِ
Artinya : ”Dan dialah yang mempunyai
kekuasaan yang tertinggi di atas semua hamba-Nya.” (Al-An’am: 61)
يَا
حَسْرَتَا عَلَى مَا فَرَّطْتُ فِي جَنْبِ اللَّهِ
Artinya :”Amat besar penyesalanku
atas kelalaian dalam menunaikan kewajiban terhadap Allah.”(Az-zumar: 56)
D.
Pendapat
Ulama tentang Ayat Muhkam dan Mutasyabih
1. Madzhab
salaf, yaitu para ulama yang memercayai dan mengimani ayat-ayat mutasyabih dan menyerahkan sepenuhnya
kepada Allah sendiri (tafwidh ilallah).
Mereka menyucikan Allah dari pengertian-pengertian lahir yang mustahil bagi
Allah dan mengimaninya sebagaimana yang diterangkan Al-Quran. Di antara ulama
yang masuk ke dalam kelompok ini adalah Imam Malik. Ibn Ash-Shalah menjelaskan
bahwa madzhab salaf ini dianut oleh generasi dan para pemuka umat islam
pertama. Madzhab ini pulalah yang dipilih imam-imam dan para pemuka fiqih.
Kepada madzhab ini pulalah, para imam dan pemuka hadis mengajak para
pengikutnya. Tidak ada seorang pun di antara para teolog yang menolak madzhab
ini.
2. Madzhab
khalaf, yaitu para ulama yang berpendapat perlunya menakwilkan ayat-ayat mutasyabihah yang menyangkut sifat
Allah, sehingga melahirkan arti yang sesuai dengan keluhuran Allah. Mereka
umumnya berasal dari kalangan ulama muta’akhirin. Imam Al-Haramain (W.478 H)
pada mulanya termasuk madzhab ini, tetapi kemudian menarik dirinya. Dalam Ar-Risalah An-Nizhamiyyah, ia menuturkan
bahwa prinsip yang harus dipegang dalam beragama adalah mengikuti madzhab salaf
sebab mereka memperoleh derajat dengan cara tidak menyinggung ayat-ayat
mutasyabih.
Untuk menengahi
kedua madzhab yang kontradiktif itu, Ibn Ad-Daqiq Al-‘Id mengatakan bahwa
apabila penakwilan yang dilakukan terhadap ayat-ayat mutasyabih dikenal oleh lisan Arab, penakwilan itu tidak perlu
diingkari. Jika tidak dikenal oleh lisan Arab, kita harus mengambil sikap tawaqquf (tidak membenarkan dan tidak
pula menyalahkannya) dan mengimani maknanya sesuai apa yang dimaksud ayat-ayat
itu dalam rangka menyucikan Allah. Namun, bila arti lahir ayat-ayat itu dapat
dipahami melalui percakapan orang Arab, kita tidak perlu mengambil sikap tawaqquf. Contohnya adalah dalam
Al-Qur’an surat Az-Zumar ayat 56 yang kami dimaknai dengan hak dan kewajiban.
Selain itu, Ibnu Qutaibah (W.276 H) menentukan dua syarat bagi absahnya sebuah
penakwilan. Pertama, makna yang
dipilih sesuai dengan hakikat kebenaran yang diakui oleh mereka yang memiliki
otoritas. Kedua, arti yang dipilih
dikenal oleh bahasa Arab klasik. Syarat yang dikemukakan ini lebih longgar
daripada syarat kelompok Azh-Zhahiriyyah yang menyatakan bahwa arti yang
dipilih tersebut harus dikenal secara popular oleh masyarakat Arab pada masa
awal.[11]
E. Latar Belakang Terjadinya Ayat Muhkam dan Mutasyabih
Secara tegas dapat dikatakan, bahwa
sebab adanya ayat muhkamah dan mutasyabihat ialah karena Allah Subhanahu wata’ala menjadikannya
demikian itu. Allah Subhanahu wata’ala
memisahkan atau membedakan antara ayat-ayat yang muhkam dari yang mutasyabih,
dan menjadikan ayat muhkam sebagai bandingan ayat yang mutasyabihat. Allah SWT
telah berfirman dalam (Q.S. Ali Imran: 7):
هُوَ الَّذِي أَنْزَلَ عَلَيْكَ الْكِتَابَ مِنْهُ آيَاتٌ
مُحْكَمَاتٌ هُنَّ أُمُّ الْكِتَابِ وَأُخَرُ مُتَشَابِهَاتٌ فَأَمَّا الَّذِينَ
فِي قُلُوبِهِمْ زَيْغٌ فَيَتَّبِعُونَ مَا تَشَابَهَ مِنْهُ ابْتِغَاءَ
الْفِتْنَةِ وَابْتِغَاءَ تَأْوِيلِهِ وَمَا يَعْلَمُ تَأْوِيلَهُ إِلا اللَّهُ
وَالرَّاسِخُونَ فِي الْعِلْمِ يَقُولُونَ آمَنَّا بِهِ كُلٌّ مِنْ عِنْدِ
رَبِّنَا وَمَا يَذَّكَّرُ إِلا أُولُو الألْبَابِ
Artinya:
“Dia-lah
yang telah menurunkan Al-Kitab (Al-Quran) kepada kamu. Di antara isinya ada
ayat-ayat yang muhkamat, itulah pokok-pokok isi Al-Quran, dan yang lain
ayat-ayat mutasyabihat. Adapun orang-orang yang dalamhatinya condong kepada
kesesatan, maka mereka mengikuti sebagian ayat-ayat yang mutasyabihat untuk
menimbulkan fitnah dan untuk mencari-cari takwilnya, padahal tidak ada yang
mengetahui takwilnya melainkan Allah. Dan orang-orang yang mendalam ilmunya
berkata: “Kami beriman kepada ayat-ayat yang mutasyabihat, semuanya itu dari
sisi Tuhan kami”. Dan tidak dapat mengambil pelajaran (daripadanya) melainkan
orang-orang yang berakal”.
Sebab adanya ayat muhkamat itu sudah
jelas, yakni sebagaimana yang sudah ditegaskan dalam ayat 7 surat Ali-Imron di
atas, sedangkan sebab adanya ayat mutasyabihat dalam Al-Qur’an karena adanya
kesamaran maksud dalam ayat-ayat-Nya sehingga sulit dipahami umat. Walapun ada
ulama yang mengatakan bahwa ayat-ayat mutasyabih
itu dapat ditakwilkan oleh manusia, namun menurut sebagian besar ulama
berpendapat bahwa ayat-ayat mutasyabih itu tidak dapat diketahui oleh
seorangpun kecuali Allah.[12]
Terjadi hal tersebut, salahs atunya
dikarenakan adanya perbedaan peletakan waqaf pada ayat diatas yakni :
وَمَا يَعْلَمُ تَأْوِيلَهُ إِلا اللَّهُ
وَالرَّاسِخُونَ فِي الْعِلْمِ يَقُولُونَ آمَنَّا بِهِ
Kebanyakan yang kita tahu waqaf terletak
sesudah إِلا اللَّهُ , namun ada juga yang berpendapat
meletakkan waqaf setelah وَالرَّاسِخُونَ فِي
الْعِلْمِ sehingga menimbulkan
perbedaan pendapat.
F.
Kandungan
hikmah Ayat Muhkam dan Mutasyabih
Hikmah
dari adanya ayat-ayat muhkam antara lain [13]:
1. Mudahnya
manusia untuk mengetahui makna, arti dan maksudnya.
2. Karena
ayat-ayat muhkam mudah dipahami, maka nantinya umat islam akan dapat terdorong
untuk segera mengamalkan isi kandungan ayat tersebut
3. Menjadi
rahmat bagi manusia, khususnya bagi yang lemah berbahasa arab.
Hikmah dari adanya ayat-ayat mutasyabih
antara lain [14]:
1. Manusia
dapat menyadari bahwa Al-Qur’an benar-benar merupakan wahyu ilahi, karena
terdapat mukjizat yang ditunjukkan dalam Al-Qur’an yakni ketinggian sastra dan balaghah-nya.
2. Dengan
ayat tersebut menjadikan ujian bagi manusia, apakah mereka masih tetap beriman
atau sebaliknya.
3. Yang
benar-benar mengkaji insyaallah akan mendapatkan tambahan pahala dari Allah
ta’ala, karena membutuhkan kajian yang sangat serius.
4. Mendorong
giatnya belajar
Dari
berbagai hikmah yang ada yang paling penting ialah [15]:
1. Memperlihatkan
kelemahan akal manusia
Akal sedang dicoba untuk meyakini
keberadaan ayat-ayat mutasyabih sebagaimana
Allah memberi cobaan pada badan untuk beribadah. Seandainya akal yang merupakan
anggota badan paling mulia itu tidak diuji, tentunya seseorang yang
berpengatuan tinggi akan menyombongkan keilmuannya sehingga enggan untuk tunduk
kepada naluri kehambaannya. Ayat-ayat mutasyabih merupakan sarana bagi
penundukan akal terhadap Allah karena kesadarannya akan ketidakmampuan akalnya
untuk mengungkap ayat-ayat mutasyabih
itu.
2. Teguran
bagi orang-orang yang mengotak-atik ayat mutasyabih
Pada penghujung surat Ali-Imran ayat
[3] ayat 7, Allah menyebutkan wa ma
yadzdzakkaru illa uulu Al-bab sebagai cercaan terhadap orang-orang yang
mengotak-atik ayat-ayat mutasyabih. Sebaliknya,
memberikan pujian pada kepada orang-orang yang mendalami ilmunya, yakni
orang-orang yang tidak mengikuti hawa nafsunya untuk mengotak-atik ayat-ayat mutasyabih sehingga mereka berkata rabbana la tuzigh qulubana. Mereka
menyadari keterbatasan akalnya dan mengharap ilmu ladunni.
3. Memberikan
pemahaman abstrak-ilahiah kepada manusia melalui pengalaman indrawi yang bisa
disaksikan
Sebagaimana dimaklumi bahwa pemahaman
diperoleh manusia tatkala ia diberi gambaran indrawi terlebih dahulu. Dalam
kasus sifat-sifat Allah, sengaja Allah memberikan gambaran fisik agar manusia
dapat lebih mengenal sifat-sifatNya. Bersamaan dengan itu, Allah menegaskan
bahwa diri-Nya tidak sama dengan hamba-Nya dalam hal pemilikan anggota badan.
BAB
III
KESIMPULAN
Dari
bab pembahasan dapat disimpulkan bahwa ayat-ayat muhkam merupakan ayat yang
sudah jelas maknanya sedangkan ayat mutasyabih merupakan ayat yang belum jelas
maknanya. Ayat mutasyabih dapat ditinjau dari pengetahuan manusia dan lafadz serta
makna. Ayat-ayat muhkam diantaranya terdapat pada Q.S: Al-Hujarat: 13, Al-Baqarah:
21, Al-Baqarah: 275, Al-Maidah : 90. Ayat-ayat mutasyabih diantaranya terdapat
pada Q.S: Thaha: 5, Al-qashash: 88, Ar-Rahman: 27, Al-Fath: 10, Al-Fajr: 22,
Al-An’am: 61, Az-zumar: 56.
Pendapat
ulama tentang adanya ayat muhkam dan
mutasyabih ini menghasilkan pendapat dari madzhab salaf dan madzhab khallaf.
Jika madzhab salaf berpendapat bahwa ayat mutasyabih dikembalikan kepada Allah
saja yang mengetahuinya dengan sebatas mentafsirkan, sedangkan madzhab khallaf
berpendapat bahawa ayat mutasyabih dapat ditakwilkan dengan pembahasan yang
mendalam agar tidak kering maknanya dan tentu masih menggunakan batasan yang
ada.
Tujuan
dari adanya ayat muhkam dan mutasyabih tidak lain ialah untuk menguji keimanan
manusia apakah mereka lebih senang mentakwilkan yang mutasyabih sedangkan ayat
yang muhkam yang maknanya jelas mereka lupakan.
DAFTAR
PUSTAKA
Anwar, Rosihon. 2007. Ulum Al-Qur’an. Bandung: CV Pustaka
Setia.
Anwar, Abu. 2002. Ulumul
Qur’an:Sebuah Pengantar. Pekanbaru:
Penerbit Amzah.
Departemen Agama RI. 1984. Al Qur’an dan Terjemahnya. Jakarta:
Departemen Agama RI
Ghufron, Mohammad dan
Rahmawati. 2013. Ulumul Qur’an
Praktis dan Mudah. Yogyakarta: Teras.
Masyhur, Kahar. 1992. Pokok-pokok
Ulumul Qur’an. Jakarta: Rineka Cipta.
[1] Rosihon Anwar Ulum Al-Qur’an, (Bandung:CV Pustaka
Setia, 2007),hlm. 120-121.
[2] Kahar Masyhur,
Pokok-pokok Ulumul Qur’an, (Jakarta: Rineka Cipta, 1992)hlm. 120-121.
[3]Rosihon Anwar,
Op.cit., hlm. 122
[4] Mohammad
Ghufron dan Rahmawati, Ulumul Qur’an Praktis dan Mudah, (Yogyakarta:
Teras. 2013), hlm. 76-77.
[5] Departemen
Agama RI, Al Qur’an dan Terjemahnya (Jakarta : Departemen Agama RI,
1984), hlm. 19.
[7] Ibid, hlm.
78-79.
[8] Ibid, hlm.
79-82.
[9] Rosihon Anwar,
Op.cit., hlm. 126-127.
[10] Ibid, hlm.127-129
[12] Abu Anwar, Ulumul Qur’an:Sebuah Pengantar, (Pekanbaru:Penerbit Amzah,2002), hlm.83.
[13] Mohammad
Ghufron dan Rahmawati, Op.cit.,
hlm. 82-83.
[15] Rosihon Anwar,
Op.cit., hlm.134-135
nah, jadi sekian postingan kali ini semoga bermanfaat okay.....
wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakaatuh..